Memberikan informasi dan inspirasi

Pks Abstain di Pilkada Solo

Menarik juga sikap PKS… belajar istiqamah πŸ‘‡πŸ˜€

Tulisan mencerdaskan,
apa pun pandangan politik anda.
Menambah wawasan dan pemahaman.
=========

Dari wall Ibu Afri.

MEMAHAMI LANGKAH (NON) POLITIS PKS DITENGAH DEMOKRASI YANG DIBAJAK

(Iramawati Oemar)
●○●○●○●

Ketika tadi pagi melihat tayangan berita di layar televisi ada konpers dari Sohibul Iman, Presiden PKS, bahwa PKS memutuskan abstain di pilkada Solo setelah ikhtiar mereka mencoba menghadirkan lawan tanding bagi anak presiden akhirnya gagal, terbentur tembok kokoh treshold 20%, saya merasa lega… sekali.

Awal mula twitterland heboh dengan tagar tentang si gibran, putra mahkota jokowi, seorang pengamat politik yang tampak kesal dengan peristiwa politik ini β€” dimana Poernomo, calon kuat cawali Solo dari PDIP, dipanggil jokowi ke istana untuk diberi tahu bahwa anaknya lah yang direstui DPP untuk jadi cawali, bukan Poernomo β€” memberikan saran yang terkesan pragmatis.

Sarannya : PKS, sebagai satu-satunya partai politik yang punya kursi di DPRD Solo yang tidak ikut mencalonkan gibran, agar segera saja bergabung, ikut mengusung gibran.

Tujuannya : agar hanya ada calon tunggal. Dengan begitu maka gibran akan berhadapan dengan kotak kosong.

Ini sejalan dengan aspirasi nettizen di media sosial : “otak kosong VS kotak kosong”.

Ya, pengamat politik tersebut ingin gibran sekalian saja melawan kotak kosong. Ini akan mendelegitimasi kemenangan gibran. Menang melawan kotak kosong, apanya yang dibanggakan?
Itu sebabnya menurut dia satu-satunya jalan adalah PKS segera bergabung mengusung gibran.

Namun disisi lain, publik banyak pula yang meminta PKS mengajukan paslon lain sebagai penantang gibran.

Tampaknya, awalnya PKS lebih memilih opsi ini.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata parpol lain bergeming, mereka tak hendak meninggalkan gibran. Seolah sudah digaransi bakal menang mudah.

Mungkin juga parpol-parpol itu khawatir jatah kursinya di kabinet bakal di-reshuffle kalau nekad menghadirkan penantang gibran.

Kini, sudah pasti gibran tidak akan melawan kotak kosong. Satu paslon independen, yaitu Bagyo Wahyono dan FX Suparjo (Bajo), sudah dinyatakan memenuhi syarat untuk mendaftar oleh KPUD setempat. Pasangan Bajo ini mampu memenuhi syarat minimal 35 ribuan dukungan warga Solo. Keduanya bahkan berhasil mengumpulkan hampir 39 ribu dukungan warga Solo, jauh di atas batas minimum dukungan.

Kendati begitu, banyak pula yang meragukan “orisinalitas” paslon independen ini. Bagyo yang seorang tukang jahit rumahan dan FX Suparjo yang jadi Ketua RW di kampungnya, dalam tempo cukup singkat mampu menggalang KTP dan surat dukungan. Padahal, mereka ini baru muncul disaat gibran sudah ditetapkan sebagai cawali oleh PDIP.

Itu sebabnya banyak yang menduga keduanya hanyalah “calon boneka”.
Gibran pun membela keduanya.

Bagaimanapun juga, bagi gibran jauh lebih baik melawan paslon independen ketimbang melawan kotak kosong.

Jika nanti dia menang, maka seolah kemenangannya legitimate. Seakan dia benar-benar pilihan rakyat Solo. Calon independen lebih mudah dilawan, sebab tak punya mesin parpol dibelakangnya. Apalagi jika kedua calon bukanlah public figure yang populer atau tokoh masyarakat yang jadi panutan.

Maka, kini tak ada beban lagi bagi PKS untuk bersikap: ABSTAIN..!
Ketimbang ikut arus koalisi besar pendukung penguasa, PKS lebih terhormat tidak ikut pilkada kali ini..!

Lalu bagaimana “nasib” PKS lima tahun lagi?

Bagaimana nanti di Pilkada solo 2025? Apakah PKS bisa mengajukan calon?

Kalau mengacu pada Pilpres tahun kemarin, parpol yang memiliki wakil di parlemen, wajib mengusung capres – cawapres. Jika tidak, maka akam “dihukum” tidak bisa mengajukan capres/cawapres pada Pilpres 5 tahun berikutnya.

Jika hal ini diterapkan pula pada Pilkada, maka PKS “terancam” tidak dapat mengajukan calon pada pilkada Solo 2025.

Jadi bagaimana, rugi dong? Gambling..?

Justru saya melihat proyeksi OPTIMISME dalam sikap teguh PKS ini. Sikap yang tidak akan berani diambil parpol lain yang cenderung konservatif..!

Parpol yang cenderung menyandarkan masa depan “nasib” politiknya pada deal-deal sedari sekarang.

Parpol-parpol yang digawangi oleh para politisi yang selalu berteriak “politik itu dinamis!”, tetapi disaat yang sama mereka mempercayakan komitmen kesetiaan untuk saling dukung, justru pada kedinamisan itu sendiri.

Apa yang bakal terjadi 5 tahun lagi adalah MISTERI besar.

Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi di 2025, jika kontestasi 2024 saja belum bisa diprediksi?!

Bahkan, apakah pemerintahan saat ini dan seluruh koalisi besarnya akan mampu terus berjaya sampai 2024, di tengah krisis multidimensi plus pandemi, juga tak ada yang bisa menjamin..!

Jadi, undang-undang pemilu, pilkada, pileg bahkan pilpres sekalipun masih terbuka kemungkinan untuk berubah.

Ingat, saat Pemilu pada Mei 1997, Golkar menang sangat telak, paling tinggi sepanjang sejarah Orde Baru, siapa sangka setahun kemudian keadaan berubah drastis?!

Siapa yang berani membayangkan saat itu bakal ada undang-undang yang membolehkan sistem multi partai di republik ini?

Siapa yang menyangka bahwa Pancasila sebagai azas tunggal parpol kemudian dicabut dan parpol boleh berazaskan agama?! Semua terjadi dalam tempo singkat.

Jadi sekali lagi : apa yang akan terjadi 5 tahun ke depan masih misteri.
Sedangkan apa yang terjadi tahun ini sudah pasti.

Jika PKS bergabung dengan koalisi besar dan mendukung gibran, maka sudah pastilah apa “stempel” yang akan diterima PKS.
Kalau gibran menang, tak ada yang bisa dibanggakan.

Kalau pun qodarullah gibran kalah, fakta bahwa PKS telah mendukung oligarki, nepotisme dan politik dinasti, tetap tidak akan terhapus.

Jadi sudah tepat sekali sikap PKS saat ini menyikapi pilkada Solo.

Bukankah ini “demokrasi pura-pura” saja?

Milyaran rupiah uang negara akan dihabiskan untuk menggelar perhelatan politik, yang dilabeli seolah-olah “pesta politik rakyat”, hanya untuk sekedar melegitimasi sang pangeran putra mahkota meneruskan tahta bapaknya, jadi adipati dululah… jangan langsung jadi raja.

Mirisnya, parpol-parpol besar yang semestinya mampu membangun koalisi dan mencalonkan kadernya di Solo, memilih “manut”, sendiko dawuh paduka raja.

Seakan khawatir skenario 2024 bakal bubrah kalau tak mau nurut titah sang baginda.

Baginda memajukan putra mahkota, semua mendukung. Baginda memajukan pangeran mantu, semua mendukung. Bahkan seandainya baginda raja mau mencalonkan cucunya sekalipun, wajib didukung. Semua demi mulusnya jalan restu menuju 2024.

Padahal, sudah terbukti bahwa kesepakatan politik itu sangat rentan ditelikung dan dikhianati.

Perjanjian Batu Tulis 2009 adalah bukti nyata. Yang terbaru, komitmen untuk mendukung wakil partai Anu jadi ketua MPR periode 2019 – 2024, ternyata juga dikhianati pas dihari pemilihan.

Politik itu dinamis, katanya. Tapi ironisnya para politikus itu lebih percaya berkomitmen dengan kedinamisan itu. Sampai-sanpai mereka terbelenggu dan menggadaikan idealismenya.

Apa yang dilakukan PKS di Solo adalah sebuah PEMBELAJARAN MORIL bahwa tidak selamanya kepentingan dan deal-deal politik dinomorsatukan meski harus melacurkan idealisme.

Saya percaya, apa yang akan terjadi 5 tahun lagi masih misteri.

Tak perlu heran kalau nanti ada yang tertipu lagi. Kita tertawakan saja mereka yang bodoh karena percaya pada kedinamisan (komitmen) politik itu sendiri.

Semoga PKS tetap ISTIQOMAH.
Kalau begitu, insyaa Allah saya akan berkata “2024 PKS aja!”

Sumber : Fb Pks Kab.1

https://amp.kompas.com/regional/read/2020/08/29/14342221/abstain-di-pilkada-solo-pks-ini-pembelajaran-demokrasi-yang-terbajak

 

Hosting

Translate Β»