Menilik Kemungkinan Covid-19 Menjadi Endemi, Apa Bedanya dengan Pandemi?

Menilik Kemungkinan Covid-19 Menjadi Endemi, Apa Bedanya dengan Pandemi?



Lebih dari satu tahun berlalu semenjak dideklarasikan sebagai pandemi global, keberadaan Covid-19 di berbagai penjuru negeri saat ini masih menjadi permasalahan besar yang dihadapi sejumlah negara.

Diyakini berasal dari wilayah Wuhan, China yang infeksinya menyebar ke seluruh belahan dunia lewat paparan orang yang bepergian dari wilayah tersebut ke berbagai negara lain, tak pelak membuat angka penyebaran meningkat pesat dalam waktu singkat.

Sedikit kilas balik, saat pertama kali jumlah infeksi secara global sudah melampaui angka 121 ribu kasus, dengan peningkatan negara yang terinfeksi menjadi tiga kali lipat hanya dalam waktu dua minggu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemi global untuk pertama kalinya pada tanggal 9 Maret 2020.

Sejumlah negara terus berjuang menjaga kestabilan masing-masing hingga saat ini, termasuk Indonesia. Banyak menelan korban jiwa, namun perubahan signifikan kian terasa ketika berbagai pihak mulai bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi dari hantaman pandemi sejak awal menghampiri.

Di saat yang bersamaan, beberapa negara bahkan berhasil bangkit dan menetapkan kebijakan untuk hidup berdampingan dengan Covid-19, menganggap keberadaan virus tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa hilang sepenuhnya, sehingga melahirkan pola kehidupan yang baru.

Berangkat dari hal tersebut, tak heran jika belakangan muncul keyakinan bahwa Covid-19 akan mengalami perubahan status, dari yang semulanya disebut sebagai pandemi namun dalam waktu dekat kemungkinan akan dideklarasikan sebagai endemi.



Apa perbedaan keduanya?

Memahami Seluk-beluk Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Perbedaan Endemi, Epidemi, dan Pandemi

ilustrasi pola penyebaran penyakit pada pandemi
ilustrasi pola penyebaran penyakit pada pandemi | Martin Sanchez/Unsplash

Kemungkinan perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi dijelaskan oleh Nature, instansi penerbit jurnal ilmiah yang berbasis di Inggris dan sudah hadir sejak tahun 1869.

Belakangan, Nature menjalankan sebuah survei terhadap 100 orang yang terdiri dari ahli imunologi, peneliti penyakit menular, dan ahli virologi di seluruh dunia yang berperan langsung dalam penanganan Covid-19.

Survei tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pandangan para ahli, mengenai kemungkinan akan hilangnya Covid-19 dari muka bumi secara keseluruhan.

Hasilnya, sebanyak 89 persen dari keseluruhan ilmuwan yang berasal dari 23 negara menyatakan, bahwa Covid-19 tidak akan sepenuhnya hilang dan akan menjadi virus endemi yang terus hadir beriringan dengan seluruh populasi global.



Apakah hal tersebut menjadi kabar baik atau buruk? Jawaban yang tepat adalah keduanya. Untuk memahami lebih jelas, ada baiknya masyarakat memami kembali secara dasar apa perbedaan dari endemi, epidemi, dan pandemi.

Endemi didefinisikan sebagai wabah penyakit yang muncul di beberapa wilayah pada populasi atau area geografis tertentu. Penyakit yang muncul bersifat konstan, dan akan selalu ada dengan jumlah kasus yang rendah atau dalam batas normal.

Contoh dari penyakit bersifat endemi di antaranya adalah DBD, malaria, dan tuberkulosis.

Epidemi merupakan endemi yang meningkat dalam satu waktu tertentu, di mana penyebarannya sudah melampaui batas normal dan angka kasusnya cukup tinggi sehingga memengaruhi populasi penduduk di wilayah yang bersangkutan.

Contoh dari penyakit yang bersifat epidemi yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2003 yang terjadi di beberapa negara tertentu, dan menelan korban hingga ratusan jiwa, kemudian ada juga penyakit Ebola yang terjadi di negara-negara Afrika.

Pandemi adalah kondisi yang sedang dialami saat ini, wabah penyakit yang terjadi bukan lagi menyebar dalam skala kecil atau ledakan kasus di beberapa negara tertentu saja. Penyakit yang bersifat pandemi penyebarannya terjadi secara merata ke hampir seluruh negara sehingga menjadi permasalahan dunia.

Dari ketiga perbedaan di atas, kemungkinan perubahan Covid-19 menjadi penyakit dengan status endemi memang menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk.

Kabar buruknya, sebagaimana kehidupan yang terus berevolusi, akan selalu ada berbagai macam penyakit jenis baru yang hidup berdampingan dengan manusia, Covid-19 menjadi salah satunya untuk saat ini dan tidak menutup kemungkinan akan kembali ada wabah baru di waktu yang akan datang.



Kabar baiknya, kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan wabah Covid-19 yang terjadi, membuat lonjakan kasus dalam skala besar perlahan menurun. Sehingga, Covid-19 yang awalnya dipandang dan berstatus sebagai penyakit mematikan yang sudah merenggut banyak nyawa, di masa yang akan datang menjadi penyakit berstatus epidemi dengan sifat yang konstan dan angka kasus yang rendah.

Namun yang perlu diperhatikan adalah, seberapa lama proses perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi di suatu wilayah atau negara tertentu.

Next page : 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

English EN Bahasa Indonesia ID